Dongeng – Meng Jiangnu

Dongeng dari Tionghoa

Pada suatu masa, keluarga Meng dan keluarga Jing hidup rukun berdampimgan, di wilayah Badaling. Walaupun hidup sederhana, mereka merasa berbahagia. Sayang sekali, kedua keluarga ini tidak dikaruniai anak.

Saat musim semi tiba, keluarga Meng menanam biji labu di halaman depan rumahnya. Labu itu tumbuh dengan subur, hingga melewati tembok pemisah rumah, dan memasuki pekarangan rumah keluarga Jiang.

Keluarga Jiang sangat mengagumi buah labu yang besar dan ranum itu. Maka keluarga Meng memutuskan untuk membagi dua labu tersebut.

Sungguh ajaib, ketika labu tersebut dibelah, ternyata di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih tanpa cela, pipinya ranum seperti apel, dan rambutnya hitam bercahaya. Cantik sekali!

Kedua keluarga itu sangat gembira mendapat keajaiban tersebut. Mereka berjanji akan merawat bayi tersebut bersama-sama. Maka bayi tersebut diberi nama Meng Jiangnu.
Meng Jiangnu tumbuh besar dengan curahan kasih sayang dari kedua keluarga tersebut. Tidak heran jika Meng Jiangnu kemudian menjadi gadis yang sangat cantik dan cerdas.

Sementara itu, kaisar yang berkuasa saat itu, kaisar Qin Shihuang, sedang membangun tembok cina . Tembok yang juga berfungsi sebagai benteng itu terbentang dari propinsi Gansu sampai Pantai Pasifik. Banyak warga yang dipaksa berkerja rodi untuk pembangunannya. Mereka dipaksa bekerja siang dan malam, tanpa diberi makan dan seringkali dicambuki oleh para penjaga yang kejam. Maka banyak penduduk yang mati kelaparan dan kecapaian.

Salah seorang pekerja itu bernama Fan Xiliang. Dia seorang pemuda yang gagah dan tampan. Suatu malam Fan Xiliang melarikan diri karena sudah tak tahan lagi bekerja rodi. Dia berlari sekuat tenaga. Hingga tibalah dia di pekarangan sebuah rumah. Fan Xiliang lalu bersembunyi di balik rimbunan bunga.

Pagi itu Meng Jiangnu hendak menyiram bunga di pekarangan. Fan Xiliang terpana melihat kecantikan Meng Jiangnu. Tak sengaja kakinya menginjak sebatang ranting kering hingga menimbulkan bunyi yang keras dan mengagetkan Meng Jiangnu. Melihat ada lelaki yang tidak dikenalnya, refleks Meng Jiangnu berteriak meminta tolong. Fan Xiliang yang ketakutan memohon agar Meng Jiangnu menghentikan teriakannya. Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Meng Jiangnu merasa kasihan mendengarnya. Maka dia membawanya menghadap orang tuanya. Kedua keluarga itu juga merasa kasihan atas nasib Fan Xiliang sehingga mengijinkannya untuk sementara tinggal hingga keadaan aman.

Meng Jiangnu dan Fan Xiliang kemudian menjadi akrab. Hingga mereka saling jatuh cinta. Kedua keluarga Meng Jiangnu sangat senang melihat kedua sejoli itu saling menyukai. Keempatnya setuju untuk menikahkan anak kesayangan mereka dengan Fan Xiliang. Dan ternyata keputusan ini juga disambut gembira oleh Meng Jiangnu dan Fan Xiliang. Akhirnya, pasangan ini pun menikah dan hidup bahagia.

Di rumah keluarga Meng ada seorang pembantu bernama Liu Qi yang diam-diam menyukai Meng Jiangnu. Tidak heran jika dia membenci Fan Xiliang dan bermaksud memisahkannya dengan Meng Jiangnu. Diam-diam dia melaporkan keberadaan Fan Xiliang kepada penjaga tembok Cina. Segera saja serombongan penjaga menangkap Fan Xiliang dan memaksanya kemabli ke tempat pembagunan tembok Cina.

Betapa sedihnya Meng Jiangnu melihat suaminya ditangkap dan dibawa pergi. Dia menangis dan memohon kepada penjaga tersebut untuk melepaskan suaminya, namun penjaga itu malah membentaknya. Akhirnya Meng Jiangnu hanya bisa meratap.

Setelah beberapa minggu Meng Jiangnu sudah tidak bisa membendung kerinduannya pada suami yang dicintainya. Maka dia memutuskan untuk pergi mencari suaminya. Orang tuanya tidak bisa mencegah keinginan putrinya. Dengan terpaksa mereka mengijinkan Meng Jiangnu pergi dengan ditemani Liu Qi.

Di tengah perjalanan Liu Qi berusaha membujuk dan merayu Meng Jiangnu untuk mau menikah dengannya dan melupakan suaminya. Tahulah Meng Jiangnu bahwa Liu Qi lah yang telah melaporkan suaminya kepada para penjaga. Meng Jiangnu sangat marah kepada Liu Qi namun dia berpura-pura setuju untuk menikah dengannya.
“Baiklah aku akan menikah denganmu. Tapi aku punya satu syarat. Aku ingin kau memetik bunga liar itu sebagai tanda cintamu padaku,” kata Meng Jiangnu sambil menunjuk sekuntum bunga di pinggir jurang.
Liu Qi senang sekali mendengarnya. Dengan segera dia pergi ke pinggir jurang dan berusaha meraih bunga tersebut. Sayang sekali bunga tersebut tumbuh di tempat yang sulit dijangkau. Dan karena tidak berhati-hati, Liu Qi terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Akhirnya Liu Qi yang culas itu pun mati terhempas di dasar jurang.

Meng Jiangnu kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampailah dia di tembok Cina. Kepada para pekerja dia menanyakan keberadaan suaminya. Namun mereka tidak mengenalnya. Tapi ketika Meng Jiangnu hampir putus asa, ada seorang pekerja yang pernah bertemu Fan Xiliang. Pekerja itu mengabarkan bahwa Fan Xiliang telah dihukum mati dan dia tidak tahu dimana Fan Xiliang dikuburkan.

Meng Jiangnu sedih sekali mendengar kabar tersebut. Dia menangis sepanjang malam berharap Tuhan menunjukan dimana jasad suaminya. Tiba-tiba petir menyambar tembok Cina hingga terbelah. Dan di balik reruntuhan itu tampak mayat-mayat yang sudah jadi tengkorak berserakan.

Meng Jiangnu mengerti bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya. Suaminya pastilah salah satu dari mayat-mayat itu. Namun Meng Jiangnu tidak tahu yang manakah mayat suaminya. Maka ia menggigit telunjuknya hingga berdarah dan meneteskannya ke tanah. Dia berdoa semoga Tuhan mau menunjukan yang mana mayat suaminya.

Ajaib, darah Mng Jiangnu mengalir menuju mayat Fan Xiliang. Dengan persaan sedih Meng Jiangnu mengumpulkan kerangka suami yang dikasihinya. Sayang sebelum Meng Jiangnu berhasil membawanya, serombongan pengawal Kaisar Qin Shihuang memergokinya dan membawanya ke hadapan kaisar. Kaisar sangat tertarik melihat kecantikan Meng Jiangnu dan bermaksud memperisterinya. Meng Jiangnu menolak dengan tegas hingga ia pun dijebloskan ke penjara.

Meng Jiangnu terus memikirkan mayat suaminya yang belum dikuburkan. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, sebuah ide. Maka dia memohon pengawal memperbolehkannya menghadap kaisar. Meng Jiangnu berpura-pura bersedia menikah dengan kaisar jika kaisar mau mengabulkan tiga permohonannya.
“Baiklah, katakan!” kata kaisar.
“Pertama saya ingin mengundang 49 biksu untuk membacakan doa bagi mendiang suami saya selama 49 hari,” kata Meng Jiangnu.
“Kedua, aku minta mayat suamiku dikuburkan secara layak dan paduka harus mengenakan pakaian berkabung, juga harus berlutut di depannya.”
“Dan yang terakhir, sebelum menikah aku ingin padaku menemaniku bertamasya selama tiga hari.”
Muka kaisar memerah mendengar permintaan Meng Jiangnu tersebut. Namun karena sudah berjanji maka dengan terpaksa kaisar menyetujuinya.

Setelah acara penguburan selesai, kaisar menemani Meng Jiangnu bertamasya. Di hari terakhir, Meng Jiangnu meminta kaisar menemaninya melihat pemandangan dari atas tembok Cina. Namun ketika mereka telah sampai di atas tembok Cina, tiba-tiba Meng Jiangnu berseru:”Fan Xiliang tunggulah, aku menyusulmu!” dan tanpa sempat dicegah melompat terjun dari atas tembok dan terhempas ke tanah hingga tewas.

Kaisar Qin Shihuang tertegun melihat kejadian itu dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menguburkan mayat Meng Jiangnu bersama suaminya Fan Xiliang.

(SELESAI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: