Menjadi Fasilitator untuk Anak-anak

Menjadi fasilitator sekarang semakin diminati banyak orang. Menjadi fasilitator mempunyai gengsi tersendiri, karena mulai menjadi publik figur (walau masih terbatas pada peserta pelatihan). Dia mulai akan banyak dikenal orang. Dan yang paling penting adalah seorang fasilitator dapat terus mengupdate pengetahuannya agar tidak pernah ketinggalan. Menjadi fasilitator lebih bisa mengekspresikan diri dengan lebih leluasa dan sekaligus mendapatkan tempat yang tepat untuk itu. Banyak orang yang ingin mengekspresikan diri, namun tidak pernah mendapatkan tempat yang tepat, dan jika itu dipaksakan maka akan menjadi lucu atau bahan tertawaan orang. Ambil contoh seorang santri yang sudah lama menuntut ilmu, tentu dia suah banyak menguasai berbagai ilmu keagamaan. Berbagai ilmu dan ide yang dia peroleh tentu butuh tempat untuk mencurahkan itu semua, namun kepada siapa? andaikan saja tidak ada jamaah yang siap mendengarkannya.

Pada saat berekspresi dengan segala kemampuan dan pengetahuannya, seorang fasilitator akan semakin bersemangat kalau mendapatkan apresiasi yang bagus dari para peserta pelatihannya. Apresiasi yang bagus dari peserta pelatihan akan meningkatkan andrenalin seorang fasilitator, sehingga justru semakin meningkatkan kreativitas dan kelancarannya dalam memfasilitasi.

Namun apakah demikian pula bila menjadi fasilitator untuk anak-anak? Tentu saja tidak jauh berbeda. Seperti halnya seorang guru, dia pasti akan senang  apabila anak-anak mau mendengarkan, menyimak, dan  memperhatikan dengan baik-baik apa yang disampaikan secara terus menerus. Pada prinsipnya menjadi fasilitator untuk peserta dewasa sama saja bila untuk peserta anak-anak. Yang membedakan hanyalah, bila kita kurang berhasil memfasilitasi peserta dewasa, mereka mungkin hanya diam atau asyik sendiri dengan handphone, tablet, atau laptop. Sedang bila kita kurang berhasil memfasilitasi peserta anak-anak, mereka pasti akan mengobrol atau berisik bercanda dengan teman di sebelahnya.

Fasilitator untuk anak-anak harus bisa membuat segala sesuatu berjalan lancar tanpa membebani mereka. Oleh karena itu harus disiapkan pula apa yang dibutuhkan anak-anak agar apa yang kita sampaikan kepada mereka dapat mudah dimengerti, diserap, dan diterima. Dengan kata lain, bila menjadi fasilitator untuk anak-anak kita haru bisa masuk ke dunia mereka yaitu dunia bermain, dunia yang penuh keceriaan dan kegembriaan. Secara teori sepertinya lebih mudah memfasilitasi anak-anak ketimbang orang dewasa, namun pada prakteknya tidak semudah yang dibayangkan.

Agar selalu survive dalam memfasilitasi anak-anak, seorang fasilitator untuk anak-anak harus memiliki syarat dan cara yang tidak berbeda jauh dengan memfasilitasi peserta dewasa.. Selain harus percaya diri, humoris, dan tidak jaim (jaga image), ada syarat dan cara yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut :

 

1.    Mampu Bersikap 4S (Senyum, Sapa, Sabar, Sayang)

Ini adalah kunci agar kita bisa nyaman menghadapi anak-anak demikian pula sebaliknya, anak-anak akan bisa menghadapi kita dengan nyaman.

Senyum. Setiap orang pasti akan senang melihat kita tersenyum dari pada merengut, kesal, dan sejenisnya. Demikian pula anak-anak, mereka akan senang melihat wajah kita yang selalu tersenyum. Dengan tersenyum berarti kita memberikan sinyal kepada anak-anak bahwa kita adalah orang yang ramah.

Sapa. Sapalah anak-anak sebelum mereka menyapa kita. Menyapa anak-anak berarti kita sudah memperkenalkan diri kita kepada mereka bahwa kita adalah orang yang menyenangkan. Banyak sapaan yang bisa kita lakukan kepada anak-anak seperti ; ‘Hallo, apa kabar?’, ‘Aduuuh, kamu kok imut banget sih?’, “Iiih baju kamu bagus banget deh’, dan lain-lain.

Sabar. Pola tingkah laku anak-anak banyak macamnya. Ada yang periang, pemberani, pemalu, penakut, nakal, dan lain sebagainya. Oleh karena itu kita harus bisa bersabar menghadapi tingkah laku atau ulah mereka yang mungkin kurang berkenan dihati kita. Jangan mudah terpancing emosi apalagi sampai marah kepada mereka. Sabar juga bukan berarti lembek. Untuk mendapat respek dari anak kita harus punya sikap dan pendirian. Satu hal yang harus diperhatikan bila ada seorang anak yang ulahnya menggangu kita, jangan menganggap dan memperlakukan dia seolah adalah ‘pengacau’. Dunia anak adalah dunia bermain, jadi posisikanlah diri kita seperti mereka dan berkomunikasilah seperti mereka agar mudah nyambung.

Sayang. Kasih sayang merupakan bagian hidup yang terpenting bagi manusia. Remaja, dewasa, bahkan orang tua renta sekalipun sangat memerlukan kasih sayang, apalagi anak-anak. Binatang sekali pun akan patuh kepada kita kalau kita bisa menyayanginya. Jadi kesimpulannya, meski pun kita baru mengenal mereka, sayangilah anak-anak seperti kita menyayangi anak, keponakan, atau adik kita sendiri.


2.    Sehat Fisik

Sehat fisik yang dimaksud adalah suara, mata, dan telinga. Fasilitator untuk anak-anak harus bisa menggunakan suara secara lentur sehingga dapat menghasilkan suara yang dinamis dan bervariasi. Sama juga halnya dengan dalang yang harus mampu menyuarakan peran dan adegan apapun.  Sedangkan mata digunakan untuk penglihatan secara lincah dan lentur untuk memperkuat ekspresi wajah/mimik kita sebab mata adalah pusat ekspresi kita. Demikian pula dengan telinga yang harus kita gunakan secara lentur untuk bisa merespon ucapan, komentar, atau pertanyaan dari anak-anak kepada kita. Jangan diabaikan sama sekali ucapan, komentar, atau pertanyaan dari anak. Tanggapi mereka dengan sebaik-sebaiknya.


3.    Berpenampilan Menarik

Fasilitator mempunyai banyak kesamaan dengan seorang artis. Kalau seorang artis akan tampil dipanggung untuk bernyanyi atau bersandiwara, sedangkan bagi seorang fasilitator tampil adalah untuk menyajikan materi pelatihan. Berbagai upaya dilakukan oleh seorang artis untuk menarik perhatian para penontonnya, seperti memakai pakaian mencolok dengan rambut disemir. Melantunkan lagu-lagu baru dengan memadukan koreografi yang berbeda dari biasanya.

Apakah fasilitator perlu juga berupaya menarik perhatian bagi para peserta? Jawabnya adalah YA. Apalagi menjadi fasilitator untuk anak-anak. Fasilitator adalah publik figur (pusat perhatian) bagi para peserta pelatihan. Seorang yang menjadi publik figur tentulah harus tetap menarik dilihat kapanpun dan di manapun. Tentu teknik-teknik menarik perhatian seorang fasilitator akan berbeda dengan seorang artis. Karena seorang fasilitator tetap berfungsi sebagai ”guru” bagi para pesertanya, maka harus tetap memperhatikan norma-norma tertentu yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi para ”muridnya”.

Anak-anak sangat suka sekali melihat visual, gambar, atau bentuk dengan warna-warna yang cerah. Jadi kenakanlah pakaian atau kostum yang dapat menarik perhatian mereka atau ‘eye catching’. Tidak juga kita harus mengenakan kostum yang berlebihan atau kelihatan aneh. Bisa saja kita mengakali apabila kostum yang kita kenakan terlihat kurang menarik bagi anak-anak dengan cara mengenakan sebuah topi yang unik dan lucu.


4.    Siapkan Alat Peraga

Menyampaikan edukasi kepada anak-anak tentu tidak semudah menyampaikan kepada orang dewasa. Orang dewasa tentu akan lebih mudah mengerti dan memahami edukasi yang kita berikan bila dengan cara verbal saja karena orang dewasa sudah dapat menggunakan imajinasinya dengan baik. Namun tidak demikian dengan anak-anak. Banyak anak-anak belum memiliki imajinasi yang kuat seperti halnya orang dewasa, apalagi banyak hal atau sesuatu yang belum pernah mereka lihat. Oleh karena itu sebagai fasilitator untuk anak-anak sangat perlu menyiapkan alat peraga yang tepat dan bisa menampilkan visual atau bentuk yang mudah dimengerti dan dipahami anak-anak.

Dua macam alat peraga yang bisa digunakan adalah :
a.    Gambar-gambar berwarna cerah atau kartun
b.    Boneka atau rupa-rupa yang lucu dan menarik


5.    Memulai Sesi Dengan Hal Yang Menarik

Setelah kita sudah siap dengan empat point di atas, hal yang tidak boleh kita abaikan sebagai fasilitator adalah cara memulai sesi dengan menarik agar anak-anak akan merasa sangat nyaman dan senang untuk memperhatikan, mendengar, bahkan mengikuti apa yang kita inginkan.

Hal yang dapat kita lakukan untuk memulai sesi adalah dengan melakukan Opening Act dan atau Ice Breaker, yaitu sebuah cara untuk membuat peserta menjadi terkonsentrasi.

Opening Act adalah melakukan aksi/kegiatan/pertunjukan kecil sebelum melakukan aksi/kegiatan/pertunjukan utama guna mengajak audience untuk antusias dan bersemangat.

Ice Breaking adalah melakukan aksi/kegiatan/pertunjukan guna memberikan energi sebelum pemberian materi utama, atau sebagai selingan untuk memecah kebekuan, mampu membangkitkan gairah belajar sehingga memberikan kesan yang menyenangkan ketika belajar, serta dapat membuat kelas menjadi hidup.

 

Oleh : Kak Rico Toselly




%d blogger menyukai ini: