Belajar Mendongeng / Bercerita untuk Pertunjukan

Pada umumnya orang senang dengan cerita, baik dalam bentuk dongeng, legenda ataupun kisah. Orang tua maupun anak-anak pada umumnya senang dengan cerita. Menikmati sebuah cerita, sudah mulai tumbuh pada seorang anak semenjak ia mulai mengerti akan suatu kejadian yang terjadi di sekitarnya dan setelah memorinya mampu menangkap beberapa kabar cerita. Masa tersebut mulai pada akhir tahun ketiga  usia seorang anak yang belia dapat memperhatikan penyampaian cerita sesuai dengan karakter anak tersebut. Ia akan mendengarkan cerita tersebut dan menikmatinya, ia akan meminta cerita tersebut diceritakan kembali. Cerita atau dongeng yang disajikan dengan baik membangun sejenis energi yang istimewa antara si pendongeng/penderita dan pendengar.

Cerita bisa menjadi sarana kontak batin antara orang tua dan anak, pendidik dan anak didik, bahkan pasangan manusia. Cerita juga bisa dijadikan media untuk menyampaikan informasi, pesan-pesan moral atau ajaran tertentu, sarana pendidikan bahasa, daya pikir, emosi, fantasi, imajinasi dan kreativitas anak didik. Selain itu, cerita bisa menjadi sarana memperkaya pengalaman batin dan khazanah pengetahuan, sarana hiburan dan pencegah kejenuhan.

Sedangkan bercerita merupakan ketrampilan bahasa lisan yang bersifat produktif. Dengan demikian, bercerita menjadi bagian dari ketrampilan berbicara. Ketrampilan bercerita sangat penting bagi penumbuhkembangan ketrampilan berkomunikasi.

Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi cerita-cerita. Tuhan mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci.

Bercerita juga merupakan salah satu teknik untuk menyampaikan sebuah pesan yang seringkali digunakan oleh guru kepada anak didiknya, kakak kepada adiknya, orang tua kepada anaknya, dan lain-lain. Banyak sekali alasan mengapa seseorang memilih menggunakan teknik bercerita dibanding teknik lainnya seperti drama, diskusi, atau menggunakan peralatan audio visual. Tiga alasan yang sering dikemukan adalah :

1.    Lebih Praktis dan Fleksibel.
Praktis karena dapat dilakukan seorang diri tanpa koordinasi dengan orang lain (seperti drama dan film misalnya) dan juga fleksibel karena cerita dapat disampaikan hampir di segala tempat maupun situasi, baik di dalam atau di luar kelas, kepada orang dalam jumlah banyak atau sedikit.

2.    Tidak Memerlukan Biaya Mahal.
Bercerita merupakan alat pengajaran yang sangat murah, karena dapat digunakan dengan atau tanpa alat peraga. Guru/Pengasuh/pendidik dapat bebas memilih dan mengembangkan sendiri alat peraga yang bervariasi, baik membawa gambar, peraga, boneka sebagai partner, membuat sketsa selama bercerita, menciptakan gerak-gerik tertentu dan melibatkan anak dalam cerita, dan variasi-variasi yang lain.

3.    Anak Lebih Menyukai Mendengarkan Cerita.
Jaman sekarang anak sangat suka sekali menyaksikan film-film animasi atau bentuk audio visula lainnya. Namun sebenarnya mereka justru akan lebih tertarik mendengarkan cerita dari kita kalau kita bisa memikat mereka dengan kemasan cerita yang kreatif dan variatif. Hal itu dapat mengakibatkan anak-anak merasa lebih dekat dengan tokoh-tokoh dan peristiwa dalam cerita yang kita sampaikan.

 

I.    TEKNIK DASAR BERCERITA

Dalam menyampaikan sebuah cerita ada beberapa teknik dasar dalam menyampaikan cerita kepada anak-anak. Teknik mana yang dipilih bisa disesuaikan dengan usia anak, tujuan yang dicapai, sarana dan prasarana yang tersedia, serta kesiapan dari si pendongeng itu sendiri. Teknik bercerita yang umum kita ketahui antara lain, yaitu :

1.    Menggunakan Alat Peraga, macamnya berupa :

a.    Visual/gambar.
Penggunaan gambar dapat menarik perhatian anak sehingga dapat membantu dalam memusatkan perhatian terhadap cerita yang sedang disampaikan. Di samping itu, ilustrasi gambar juga dapat membantu anak agar lebih mudah dalam menangkap pesan-pesan yang disampaikan dalam cerita. Ilustarsi gambar dapat berupa gambar seri maupun gambar lepas. Gambar berseri merupakan sejumlah gambar yang menggambarkan suasana yang sedang diceritakan dan menunjukkan adanya kontinyuitas antara gambar yang satu dengan lainnya. Sedang gambar lepas merupakan gambar yang menunjukkan situasi ataupun tokoh dalam cerita yang dipilih untuk menggambarkan situasi-situasi tertentu, antara gambar satu dengan lainnya tidak menunjukkan kontinyuitas.

b.    Boneka.
Tokoh yang terlibat dalam suatu cerita, dapat ditampilkan melalui sosok boneka. Boneka yang digunakan bisa berbentuk boneka manusia maupun boneka binatang. Boneka tersebut digunakan untuk menunjukkan karakter atau watak dari pemegang peran dalam cerita. Bisa pula kita lengkapi dengan adanya panggung bonekanya.

c.    Papan Flannel.
Apabila dalam bercerita hendak menekankan pada urutan kejadian dan karakter tokoh sebagai model bagi anak, maka tokoh-tokoh yang dimodelkan tersebut dapat digambarkan dan ditempel di papan flannel. Papan flannel merupakan media berupa papan seperti papan tulis, yang dilapisi kain flannel yang dapat digunakan untuk menempel gambar-gambar. Gambar-gambar tersebut dapat disiapkan sendiri oleh pendongeng ataupun mengambil gambar yang sudah ada seperti dari majalah atau koran yang digunting sesuai dengan pola yang diinginkan. Bagian belakang dari kertas bergambar tersebut kemudian dilapisi dengan kertas gosok atau kaian perekat sebagai media untuk merekatkan di papan flannel. Gambar-gambar yang disiapkan dapat ditempel ataupun diambil kembali sesuai dengan kebutuhan pada saat proses penyampaian cerita

d.    Peralatan/benda sehari-sehari yang biasa kita gunakan.
Perlengkapan atau benda sehari yang bisa kita gunakan antara lain seperti gayung, ember, payung, plastik kresek, dan lain-lain. Perlengkapan atau benda-benda itu bisa kita gunakan untuk merangsang imajinasi anak-anak. Seperti gayung yang terbalik bisa kita imajinasikan sebagai helikopter, ember bisa kita imajinasikan sebagai gunung, payung bisa kita imajinasikan sebagai matahari, kantong plastik kresek bisa kita imajinasikan sebagai awan cerah dan awan mendung.

2.    Tanpa Alat Peraga.

Bercerita tanpa menggunakan alat peraga adalah bercerita yang mengandalkan kekuatan ekspresi wajah dan gerak-gerik tubuh kita. Tubuh kita adalah medianya, tubuh kita adalah tokoh ceritanya, tubuh kita adalah emosi ceritanya, dan tubuh kita adalah adegan ceritanya.

Bercerita hanya dengan mengandalkan tubuh kita memang terasa lebih sulit dibandingkan dengan menggunakan alat peraga, khususnya lebih sulit untuk bisa mengambil perhatian anak-anak kepada kita. Namun kelebihannya antara lain adalah dapat merangsang imajinasi anak, anak-anak lebih fokus mendengar cerita, serta pendongeng lebih bisa berinterkasi, berekspresi, beratraksi, dan berimprovisasi. Macam-macam teknik bercerita tanpa alat peraga antara lain :

a.    Dengan membaca buku cerita.
Teknik ini dilakukan dengan cara pendongeng menyampaikan cerita dengan membacakan buku cerita secara langsung. Teknik ini bisa digunakan apabila pembimbing yakin bahwa tema dan materi cerita yang dibacakan benar-benar sesuai dengan materi dan kompetensi bimbingan yang akan dicapai. Agar cerita yang disampaikan tetap menarik, maka pendongeng disyaratkan menguasai teknik membaca dengan baik. Aspek yang perlu diperhatikan seperti intonasi suara, cara pelafalan kata atau kalimat, tempo, warna suara serta ekspresi yang menggambarkan suasana cerita.

b.    Dengan memainkan jari tangan.
Pendongeng dapat berkreasi menciptakan cerita yang disampaikan dengan cara memainkan jari-jari tangan. Jari-jari digunakan sebagai alat untuk menggambarkan bentuk-bentuk tertentu untuk mewakili tokoh dalam cerita seperti bentuk burung terbang, bentuk kepala anjing ataupun untuk menggambarkan aktivitas tertentu.

c.    Dengan dramatisasi.
Ketika pembimbing menyampaikan suatu cerita, maka pembimbing melakukannnya sambil memainkan karakter dari tokoh yang sedang diceritakan. Misalnya ketika menceritakan seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih dengan membawa tongkat, maka pembimbing menirukan sebagaimana jalannya seorang kakek yang tertatih-tatih.

Dari kedua teknik dasar bercerita di atas, kita bisa menentukan teknik dasar yang mana yang bisa akan kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita. Bisa pula kalau kita melakukan penggabungan dua teknik dasar bercerita dengan tujuan lebih memaksimalkan penampilan kita. Bahkan ada pula yang melakukan teknik bercerita dengan berkelompok/grup.


II.    PENGUASAAN DASAR BERCERITA.

Untuk bisa bercerita dengan baik di depan anak-anak, ada 5 hal dasar yang perlu dikuasai, yaitu :

1.    Cerita.

Cerita mutlak harus benar-benar kita kuasai, baik isi cerita, alur cerita, tokoh-tokoh cerita mau pun maksud dan tujuan cerita. Bukan hanya sekedar menghafal saja alur ceritanya, nama-nama tokohnya, serta letak konflik dan klimaksnya. Kita juga perlu mengetahui lebih jelas mengenai :

a.    Seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita.
b.    Jumlah tokoh dalam cerita serta membedakan masing-masing sifat, karakter, dan keistimewaannya.
c.    Berbagai emosi yang ada dalam cerita seperti sedih, gembira, marah, kasihan, heran, lucu, dan sebagainya

Untuk bisa menguasai cerita dengan baik perlunya kita membaca dan menggali cerita yang akan kita sampaikan berulang kali dengan tenang hingga keseluruhannya benar-benar melekat di otak dan hati kita. Melekat di otak kita berarti kita tahu persis isi, alur, dan tokoh-tokoh cerita. Melekat di hati berarti kita bisa menjadikan cerita tersebut seolah-olah pernah kita alami dan bisa kita hayati serta dapat membuat tutur kata kita dalam bercerita akan menjadi lepas dan mudah berimprovisasi.

Pahamilah cerita untuk kepentingan kita sendiri. Bila cerita itu sudah jelas seluruhnya, analisalah, sempurnakan bentuknya, hapuskan perincian yang tak perlu, dan uraikan garis-garis besar yang penting.

2.    Pernapasan.

Dalam bercerita pernapasan termasuk penting karena bernapas dengan baik akan sangat membantu dalam membentuk suara, artikulasi suara, intonasi suara, dan dinamisasi suara, serta dapat memenuhi phrasering atau panjang dan pendeknya sebuah kalimat dalam cerita.

Ada tiga macam pernapasan yang kita kenal, yaitu pernapasan dada, penapasan diafragma, dan pernapasan perut. Ketiga macam pernapasan tersebut memiliki cirri-ciri khusus untuk mengenalnya:

a.    Pernapasan Dada, saat menarik napas dada terangkat. Pernapasan ini hanya mendapatkan udara yang sedikit.

b.    Pernapasan Diafragma, saat bernapas seluruh lingkar diafragma membengkak. Udara masuk tidak hanya dari hidung melainkan juga dari mulut. Lingkar diafragma terletak sedikit di atas perut sampai dengan ke bagian belakang badan. Udara yang didapat sangat banyak dan dapat mudah diatur pemakaiannya serta .

c.    Pernapasan Perut, saat menarik nafas perut menjadi besar. Pernafasan ini tidak terlalu banyak mendapatkan udara namun bisa menghasilkan vokal/suara yang lantang.

Kalau kita adalah seorang penyanyi, maka kita jelas harus menggunakan pernapasan diafragma karena dapat memudahkan kita mengatur pemakaiannya dan menghasilkan stabilitas suara yang baik. Sedangkan kalau kita adalah seorang aktor, anda lebih disarankan menggunakan pernapasan perut karena dapat menghasilkan power suara yang lantang hingga bisa terdengar dengan jelas meskipun kita bercerita tanpa menggunakan microphone di dalam sebuah ruangan minimal seukuran dua kali ruangan kelas.

Dari ketiga macam pernapasan di atas, yang baik kita gunakan untuk penampilan kita bercerita adalah dengan menggunakan pernapasan perut dan diafragma.

Cara melatih pernapasan yang baik adalah dengan cara tarik/hirup napas kita sedalam-dalamnya, lalu tahan napas kira-kira 5 detik, kemudian keluarkan napas kita dengan mendesis dan perlahan-lahan sekali atau sehemat mungkin tanpa terdengar terputus-putus.
Lakukan latihan itu berulang-ulang dan saat mengeluarkan napas, suara desis kita bisa diganti dengan mengucapkan ‘a’, ‘i’, ‘u’, dan lain-lain.

3.    Suara/Vokal.

Bila pernapasan kita sudah baik tentunya kita juga akan mudah menghasilkan suara yang jelas artikulasinya, baik intonasinya, dinamis, dan lantang. Suara atau vokal sangat jelas sekali peranan pentingnya dalam bercerita sebab itu adalah kunci dalam penampilan kita bercerita. Bagaimana mungkin anak-anak akan bisa fokus mendengarkan cerita kita kalau suara kita lemah dan tak ada tenaga. Bagaimana mungkin anak-anak akan menikmati cerita dan terbawa emosi atau perasaannya kalau intonasi suara kita statis. Jadi jelaslah bahwa suara atau vokal kita adalah sangat penting bagi kita dalam berkomunikasi menyampaikan cerita kita kepada anak-anak.

Suara atau vokal kita bukan hanya sekedar untuk mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat dalam cerita dan bukan juga hanya untuk mengucapkan dialog-dialog tokoh cerita, namun juga dengan suara kita dapat memperkaya cerita kita memberikan ornament-ornament cerita seperti bunyi-bunyian/efek-efek suara atau menirukan suara-suara binatang yang ada dalam cerita. Dengan begitu cerita yang kita sampaikan akan menjadi hidup dan menarik untuk disimak. Jangan lupa atur dan perhatikanlah artikulasi dan pengucapan kata-kata agar terdengar jelas, tidak terdengar seperti orang bergumam.

Banyak yang beranggapan bahwa setiap pendongeng pasti bisa menirukan berbagai macam bunyi-bunyian atau suara. Dan beranggapan pula bahwa kalau kita ingin bisa bercerita atau mendongeng untuk anak-anak kita harus mampu menguasai berbagai macam bunyi-bunyian atau suara. Sebenarnya anggapan itu adalah salah besar. Untuk bisa mendongeng dengan baik, tidak mutlak kita harus bisa menirukan berbagai macam bunyi-bunyian atau suara. Namun yang perlu menjadi perhatian kita sebagai pendongeng adalah karakter dan warna suara pada setiap tokoh-tokoh cerita. Kita harus bisa memberikan karakter suara yang berbeda dan khas pada masing-masing tokoh cerita sehingga anak-anak pun akan mudah membedakan antara tokoh cerita yang satu dengan tokoh cerita lainnya. Suara-suara yang membedakan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya membuat sebuah cerita menjadi sangat menarik. Namun jika kita tidak bisa, jangan pernah memaksakan diri untuk melakukannya. Membuat suara-suara aneh hanya akan mempersulit kita dalam mendongeng jika kita tidak menguasainya.

Karakter dan warna suara pada setiap tokoh harus kita sesuaikan dengan :

a.    Karakter atau sifatnya.
Suara atau vokal pada tokoh cerita yang jahat tentu berbeda tokoh cerita yang baik. Suara pada tokoh cerita yang pendiam tentunya juga berbeda dengan tokoh cerita cerewet. Sebagai contoh, kita dapat memberikan penekanan suara yang keras, berat dan bernada kejam untuk tokoh yang jahat , sedangkan untuk tokoh yang baik kita dapat memberikan penekanan suara yang agak lemah dan bernada lembut untuk tokoh yang baik.

b.    Usianya.
Suara atau vokal pada tokoh cerita yang berusia tua tentu berbeda dengan tokoh cerita yang berusia lebih muda. Suara pada tokoh cerita yang dewasa tentu berbeda dengan tokoh cerita anak-anak. Sebagai contoh, kita dapat memberikan penekanan suara yang agak serak dan terbatuk-batuk untuk tokoh cerita yang berusia tua, sedangkan untuk tokoh cerita yang berusia lebih muda kita dapat memberikan penekanan suara yang stabil dan bertenaga.

c.    Kondisi atau keadaannya.
Suara atau vokal pada tokoh cerita yang sedang sakit tentu berbeda dengan tokoh cerita yang ketakutan. Sebagai contoh, kita dapat memberikan penekanan suara agak berdesis dan merintih pada tokoh cerita yang sedang sakit, sedangkan untuk tokoh cerita yang sedang ketakutan kita dapat memberikan penekanan suara terputus-putus dan gemetar

4.    Tubuh.

Tubuh juga merupakan bagian penting dalam penampilan bercerita. Gerak dan sikap tubuh merupakan salah satu cara penting yang bisa digunakan kita untuk menunjukkan emosi. Oleh karena itu gerak dan sikap tubuh kita saat mendongeng akan mempengaruhi anak-anak dalam memandang kita. Misalnya, kalau kita mendongeng dengan gerak dan sikap tubuh yang santai saja atau kikuk, anak-anak mungkin akan meresponnya dengan sikap kurang hormat dan tidak memperhatikan kita. Berbeda kalau gerak dan sikap tubuh kita sewajarnya, enerjik dan atraktif, anak-anak tentunya akan menyukai penampilan kita.

Penampilan gerak dan tubuh kita dalam bercerita  juga berhubungan dengan karakter, sifat, kondisi dan usia tokoh cerita yang digambarkan. Berdayagunakanlah tubuh kita. Jadikanlah tubuh kita untuk bisa mendukung penampilan kita dalam bercerita. Bergerak dan bersikaplahlah dengan wajar namun kalau bisa enerjik dan atraktif hingga bisa membuat penampilan kita menjadi lebih menarik dari pada kita hanya lebih banyak statis hingga bisa mengakibatkan pergerakan tubuh kita terlihat monoton dan tidak bisa mempertahankankan mata dan telinga anak-anak kepada kita.

Banyak sekali pendongeng pemula, khususnya yang tidak menggunakan alat peraga, merasakan tubuhnya justru menjadi beban pada penampilannya. Anggota tubuh yang sering terasa jadi beban adalah kedua lengannya. Bahkan bingung harus diapakan kedua lengannya hingga ada yang akhirnya lengannya dimasukan ke dalam saku celana atau ada pula yang seringkali melakukan gerak-gerik tangan yang berulang-ulang dan cenderung kurang atau tidak sinkron dengan kata-kata yang diucapkan.

Oleh karena itu tidak ada salahnya pendongeng juga berlatih olah tubuh guna melatih kesadaran dan kelenturan tubuh serta cara mendayagunakan tubuh.

Latihan olah tubuh dasar yang bisa kita lakukan antara lain seperti : senam kelenturan tubuh, koprol, backroll, gerakan bergetar, gerakan robot (patah-patah), gerakan api, gerakan angin, gerakan pohon tumbuh, gerakan lilin meleleh, dan lain-lain.

Khusus untuk melatih kedua lengan kita, bentangkan kedua lengan kita ke depan dengan lurus, lalu buka tutup kepalan tangan kita seperti meremas sesuatu berulang kali. Lakukan sekuat mungkin. Kemudian, lakukan lagi hal serupa, tanpa menurunkan kedua lengan kita, namun dengan posisi kedua lengan lurus mengarah ke samping kanan dan kiri tubuh kita. Lakukan juga dengan posisi kedua lengan kita mengarah lurus ke atas, tanpa menurunkan kedua lengan kita.

5.    Penjiwaan dan Ekspresi.

Mendongeng dihadapan anak-anak hampir sama dengan berteater/bermain drama. Sama halnya dengan berteater, mendongeng juga memerlukan penjiwaan.Dalam teater, mendongeng hampir sama dengan monolog. Bercerita untuk anak-anak harus dilakukan dengan penjiwaan atau penghayatan. Akan hambar dan monoton cerita yang kita sampaikan bila kita tidak bisa menyampaikan cerita dengan penghayatan. Bercerita tanpa penghayatan akan mengakibatkan pula tidak munculnya emosi dan imajinasi dari cerita yang kita sampaikan. Anak-anak yang mendengarkan cerita kita pun akan mengalihkan fokusnya dari kita.

Cerita yang kita sampaikan dengan penuh penjiwaan/penghayatan tentunya juga akan menghasilkan ekspresi wajah kita yang setara dengan emosi cerita atau tokoh-tokoh ceritanya. Mungkin saja ekspresi wajah kita bisa keluar tanpa penghayatan, namun itu tentunya akan sangat berbeda jauh dengan ekspresi yang dilahirkan dari dalam hati saat menuturkan cerita. Ekspresi wajah yang benar akan terlihat dari mata kita, sebab mata kita adalah pusat ekspresi. Jadi jelas bahwa penjiwaan/penghayatan sangat terkait erat dengan ekspresi wajah yang terlihat ketika kita bercerita.

Lahirkanlah ekspresi kita mengalir keluar ke permukaan wajah dengan melakukan penjiwaan. Hindarilah latihan ekspresi di depan cermin karena ekspresi yang kita latih di depan cermin bukan berasal dari penghayatan kita namun itu terlahir secara mekanik.

 

III.    TEKNIK PENAMPILAN BERCERITA

Penampilan ketika kita akan memulai dan saat bercerita patut kita pikirkan dan persiapkan pula. Hal ini demi tercapainya kelengkapan kita mempersembahkan sebuah cerita.

Beberapa teknik penampilan yang sebaiknya kita lakukan antara lain adalah :

1.    Mengenakan Kostum.

Karena anak-anak sangat memperhatikan penampilan orang dewasa, maka kita sebagai pendongeng juga tidak akan luput dari perhatian mereka. Kenakanlah kostum yang wajar namun cukup bisa menarik perhatian, berwarna cerah. Tidak harus berlebihan dan kelihatan aneh. Ciptakanlah sendiri gaya penampilan kostum kita.

2.    Memulai Penampilan.

Pemunculan kita dihadapan anak-anak harus kita mulai dengan sesuatu yang cukup menarik perhatian dan kegembiraan anak-anak. Kita harus bisa merebut perhatian anak diawal kemunculan kita. Misalnya, muncul dengan tiba-tiba dan sedikit mengejutkan, atau melakukan sedikit akrobat ringan, atau bernyanyi gembira, dan lain-lain.

3.    Menyampaikan Cerita.

Sampaikanlah cerita dengan dinamis. Pada awal cerita, kita bisa bertutur kata dengan nada yang ringan, Pada adegan cerita yang sedih, kita bertutur kata dengan nada menghanyutkan. Pada adegan cerita yang gembira, kita bertutur kata dengan nada meluap-luap. Pada adegan cerita yang seru,kita bertutur kata dengan nada berapi-api, dan seterusnya.

Selain dengan gerak-gerik alat peraga atau tubuh kita, hidupkanlah pula tokoh-tokoh cerita dengan memberikan ekspresi emosi dalam dialog tokoh-tokoh cerita. Suara juga dapat mengkomunikasikan emosi, tergantung dari nada, intensitas, dan kekerasan nada saat berbicara.

Bedakan pula suara serta sikap dan tubuh kita antara narasi cerita dan dialog dari tokoh-tokoh cerita. Bahkan akan lebih baik lagi kalau kita bisa menambahkan unsur bunyi-bunyian dari mulut kita atau dari media lainnya guna lebih menghidupkan suasana cerita.

Jangan lupa, pada saat kita bercerita lakukan kontak mata kepada dengan anak-anak. Jangan hanya fokus pada bacaan, gambar, boneka, atau alat peraga kita lainnya. Jangan pula melakukan kontak mata hanya dengan satu atau dua anak di depan kita. Bagi rata kontak mata kita ke semua anak.

4.    Memanfaatkan Luas Area.

Dalam menyampaikan cerita akan lebih baik lagi kalau kita tidak banyak berdiam di satu titik di sebuah area penampilan kita. Manfaatkan luas area yang ada. Bergeraklah kita ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, atau sekali-sekali ke belakang anak-anak. Bagilah tubuh dan ekpresi kita kepada semua anak-anak dengan jelas.

5.    Memanfaatkan Audiens.

Kita memang bercerita untuk anak-anak yang menonton/menyaksikan kita. Namun tidak ada salahnya kalau kita juga bisa melibatkan penonton anak-anak berperan serta atau menjadi bagian dari cerita yang kita sampaikan. Misalnya, nama-nama tokoh ceritanya menggunakan nama anak-anak yang menyaksikan dihadapan kita. Atau bisa juga, misalkan ada sebuah adegan raksasa yang menculik salah satu tokoh cerita, jadikanlah diri kita raksasanya dan tokoh cerita yang diculik adalah salah satu anak yang sedang menyaksikan kita, dan lain-lain.

6.    Mengakhiri penampilan.

Akhirilah penampilan kita dengan menyampaikan pesan atau makna dari cerita kita tanpa ada kesan menggurui. Dan tutuplah penampilan kita dengan sesuatu hal yang bisa menyenangkan anak-anak seperti contoh yang bisa kita lakukan pada saat memulai penampilan.

Dengan bercerita atau mendongeng secara luwes, menarik, dan menyenangkan anak, maka kita akan mendapatkan kepuasan tersendiri dalam menghadapi anak. Artinya, kita juga akan mendapatkan kebahagiaan karena berhasil menyampaikan sebuah cerita yang terkandung nilai-nilai ajaran positif dan budi pekerti.

Bercerita atau mendongeng memerlukan ketrampilan fisik, mental, dan daya pikir. Ketrampilan itu harus dilatih dengan serius. Oleh karena itu pendongeng harus mau berlatih agar bisa menguasai suasana, keadaan, cara dan teknik-teknik bercerita. Jadilah pendongeng/pendongeng yang penuh penghayatan, ekspresif, imajinatif, dan kreatif.

Keinginan yang besar untuk belajar mendongeng dengan baik akan membuat dongeng kita menjadi lebih baik dan bermakna. Sebab semua keinginan yang lahir dari dalam hati yang paling dalam akan bisa menciptakan sebuah perwujudan yang indah.


SELAMAT BERCERITA !


Oleh : Kak Rico Toselly




%d blogger menyukai ini: